Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far atau lebih dikenal dengan nama Ebiet G Ade. Penyair terkenal era akhir 1970-sekarang, salah satu penyair paling hebat yang pernah dilahirkan di negeri ini. Syair karangan Ebiet biasanya dinyanyikan oleh beliau sendiri.
Syair Ebiet bercerita tentang realita yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (tentang keluarga, cinta, religius dan masih banyak tema-tema yang lain) dan dikemas dengan bahasa yang indah dan dikenal mempunyai makna yang dalam. Itu adalah salah satu alasan almarhum Bapak menyukainya. Bapak sering memutar lagu-lagu itu, sehingga mau tidak mau aku ikut mendengarkan dan lama-lama pun turut menggemari Ebiet.
Berikut ini adalah lirik salah satu syair ciptaan Ebiet, Titip Rindu buat Ayah :
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
